stmaria.info Wilayah St. Maria Paroki St. Yakobus Keuskupan Surabaya
  Home Berita Agenda Galeri  
   
  • KEBAHAGIAAN ADALAH PILIHAN DAN KEPUTUSAN YANG KITA TENTUKAN SENDIRI OLEH KEDEKATAN DAN KEINTIMAN KITA DENGAN-NYA
 
  BERITA ROHANI
 
 
Bagaimana Kita Bisa Yakin Bahwa Wahyu Tuhan Yang Ditangkap Oleh Para Rasul itu Benar dan Tidak Diselewengkan Serta Terjaga Utuh ?
04 February 2014
Bagaimana Kita Bisa Yakin Bahwa Wahyu Tuhan Yang Ditangkap Oleh Para Rasul itu Benar dan Tidak Diselewengkan Serta Terjaga Utuh ?

Sekali lagi, hal pertama yang harus kita pegang adalah Allah sumber kebenaran tak pernah berbohong, bahwa Tuhan mewahyukan diri kepada manusia.

Tapi ini belum menjawab pertanyaan secara total. Kita perlu bertanya:

“Darimana kita tahu bahwa wahyu itu benar-benar dari Allah? Selain itu kita sudah melihat bahwa wahyu publik berakhir ketika Yesus terakhir meninggal atau wafat. Lalu bagaimana kita bisa menjamin bahwa apa yang dikatakan Yesus dan sejauh ditangkap oleh para Rasul benar-benar sampai kepada kita dan tak diselewengkan serta terjaga utuh? Dua pertanyaan ini sama-sama menyangkut kebenaran isi Wahyu meski ada perbedaannya. Pertama, menyangkut bagaimana kita yakin bahwa yang diwahyukan itu benar-benar Wahyu (yang absah). Kedua, menyangkut pemeliharaan, yaitu sejauhmana Wahyu yang benar sampai hari ini tak ada penyelewengan?”

Sebagaimana kita tahu Wahyu itu bukan soal pribadi/personal. Wahyu itu selalu hadir dalam 2[dua] konteks: sejarah dan komunitas. Allah mewahyukan diri karena Allah sejak semula ingin mengumpulkan manusia untuk diselamatkan, bukan pribadi-pribadi melainkan komunitas (umat). Ini setidaknya pandangan Kristen. Maka yang pertama-tama “menguji” keabsahan Wahyu adalah komunitas yang diberi Wahyu itu sendiri. Banyak pewartaan para nabi menyangkut nubuat mengenai masa depan. Komunitas itu yang mengalami, apakah nubuat tersebut terjadi atau tidak. Di sinilah seleksi nabi benar atau palsu, atau apakah itu dari Tuhan atau bukan. Ini baru satu hal menyangkut nubuat. Masih banyak hal lain yang dalam sejarah manusia, umat diuji dalam sejarah. Dalam bahasa tehnis, ini yang disebut proses kanonisasi, yang dalam sejarah terjadi dan umat Allah menyeleksi tulisan-tulisan yang mana dianggap “Kitab Suci” dan mana yang bukan.

Pertanyaan kedua harus dijawab sama: komunitas atau umat yang hidup itulah yang menjamin bahwa Wahyu yang disampaikan tak diselewengkan. Di sinilah para umat menjadi penjamin.

Bagaimana kita bisa menjamin Wahyu itu tak terselewengkan?

Dalam Tradisi Gereja Katolik dikatakan, adalah hirarki yang dipilih Tuhan melalui kuasa tahbisan suci (dalam bahasa tehnis disebut Magisterium). Magisterium adalah para Uskup yang mempunyai kuasa penuh tahbisan suci. Magisterium adalah pimpinan Gereja para uskup dalam kesatuan dengan pimpinannya yaitu pengganti Petrus (Paus). Merekalah yang diserahi kuasa, karisma, dan karunia Tuhan untuk menjaga agar Wahyu yang asli tak terselewengkan sampai akhir jaman. Tak mengherankan di awal Gereja muncul, banyak aliran sesat (bid’ah) yang mengatakan “Atas nama Tuhan” seolah-olah perkataan mereka adalah perkataan Tuhan.

Argumen yang diajukan oleh St. Ignatius Antiokhia adalah melihat garis sejarah kepemimpinan: apakah komunitas yang mengatakan ajaran sesat itu masuk dalam komunitas yang Uskupnya (magisteriumnya) bisa dirunut kembali ke jaman para Rasul atau salah satu Rasul. Santo Polikarpus misalnya, diyakini sebagai pengganti langsung Rasul Yohanes. Dari situ saja kelihatan, menurut Ignatius Antiokhia, terjamin keabsahan Wahyu dalam jemaat yang dipimpin Polikarpus.

Sekarang ini, mungkin orang akan bertanya lebih jauh lagi: bagaimana banyak hal yang dulunya di jaman Nabi, bahkan Yesus dan para Rasul bukan merupakan masalah pergulatan umat, kini malah menjadi masalah umat yang mendesak, sehingga kehendak Allah mengenai hal itu harus dinyatakan (mis. bayi tabung, homoseksualitas, AIDS, dll). Jawabannya kembali dikatakan demikian: seluruh Gereja sebagai jemaat dengan dibimbing Roh Kudus yang hadir dalam Gereja dan dalam kepemimpinan/kegembalaan hirarki (Magisterium) setelah merenungkan Sabda Allah dalam studi dan doa akan menjawabnya dengan tepat.

Memang dalam hal ini peranan seluruh Gereja terlibat. Namun harus cepat dikatakan, bahwa tidak semua pendapat mayoritas Gereja itulah Wahyu. Maka di sini ada dua unsur tambahan supaya jawabannya benar-benar kehendak Tuhan, yaitu peranan Roh Kudus yang membimbing dan kuasa hirarki (Magisterium) yang diberi karisma kepemimpinan/kegembalaan dan pengujian kebenaran. Di sinilah orang beriman boleh yakin, bahwa apa yang dikatakan itu resmi/sah dari Magisterium, maka umat boleh tenang dan tak pernah akan tersesat. Karisma tidak dapat sesat ini merupakan karisma khusus Roh Kudus kepada Gereja secara umum dan khusus dalam hirarki yang bersatu dengan pimpinan tertinggi. Sehingga bisa membawa umat pada kepenuhan kebenaran dan keutuhan Wahyu, serta jaminan bahwa umat bisa tenang dan mengatakan bahwa mereka mengikuti kehendak Allah.

Di sini menjadi jelas paham Gereja Katolik yang mengatakan, bahwa Allah bersabda atau mewahyukan diri bukan hanya melalui tulisan masa lampau yang meski diilhami sebagai suci (Kitab Suci) dan bahkan definitif (kanon/kriteria). Allah tetap bersabda kepada manusia di jaman sekarang. Sebenarnya sepanjang sejarah manusia Allah bersabda, asalkan manusia peka dalam jemaat dalam bimbingan Roh Kudus dan Kuasa Tahbisan (Magisterium).

Kitab Suci sebagai kriteria yang definitif Wahyu publik dan sejauh tertulis merupakan bukti bahwa Allah selalu menyapa manusia dan akan terus menyapa manusia di segala jaman. Meskipun harus diingat, bahwa tak semua bimbingan Tuhan itu tertuliskan. Masih banyak hal yang belum tertulis atau bahkan tak tertulis, tapi hidup dalam jemaat yang merupakan bimbingan Tuhan (mis. khotbah para Hirarki yang tertahbis itu sah, praktek hidup jemaat yang diyakini sebagai benar merupakan kehendak Tuhan, bahkan cara berdoa yang benar atau liturgi itu suci).     Di sinilah Tradisi masa lampau yang merupakan harta jemaat dan semua/sebagian masih dipraktekkan merupakan cara Tuhan membimbing umat-Nya, plus semua keputusan Magisterium (hirarki yang tertahbis sah) yang merupakan harta bejana rohani pewahyuan, di mana Tuhan menyapa manusia secara kongkret dalam sejarah pergulatan manusia dari jaman ke jaman.

Selama sebagai musafir dan di dunia ini, memang itulah cara (menurut Tradisi dan ajaran Katolik) bagaimana Tuhan mewahyukan diri dan tetap menyapa manusia: Kitab Suci yang diyakini benar-benar Sabda Allah dan kebenaran yang diyakini adalah Wahyu, cara hidup jemaat dari jaman ke jaman yang sebagian/seluruhnya masih dipraktekkan dan dianggap sebagai kehendak Tuhan serta bimbingan Roh Kudus dan kegembalaan hirarki tertahbis itu sah (magisterium) yang selalu membimbing umat dengan segala keputusan dan bimbingan yang diyakini kehendak Tuhan dan tak melenceng dari keaslian Wahyu sejak awal.

Karunia ini diberikan Tuhan kepada jemaat-Nya pertama-tama menurut Tradisi Katolik dan bahkan diberi karunia atau anugerah tak-dapat-sesat. Tentu karunia tak-dapat-sesat (bahasa tehnisnya infalibilitas) hanya sejauh menyangkut iman dan moral, bukan menyangkut pengetahuan lain (mis. Sains, ekonomi, kedokteran, IT dll). Kita diberi karunia dalam jemaat sampai kita menghadap Tuhan di mana Wahyu tak dibutuhkan lagi karena manusia akan melihat Tuhan dari muka ke muka. Di sana kita melihat Tuhan bukan dalam Wahyu yang terselubung, melainkan melihat Dia dalam keadaan yang sebenarnya. Tapi sejauh kita hidup di dunia ini, itulah cara Tuhan tetap mau terlibat dalam hidup manusia dan membimbing manusia sebagaimana diyakini dalam Tradisi Katolik.

Semoga kita selalu mendengar dan peka akan Dia melalui bimbingan Roh Kudus dan bimbingan mereka yang tertahbis yang dianggap guru jemaat (Uskup dalam kesatuan antara mereka dan pimpinannya yaitu Paus yang disebut Magisterium).

 

Ditulis oleh : Pastor Johanes Robini Marianto, OP

 

 

  Berita Lainnya
Ketentuan Penerimaan Komuni Pertama 2016
 
Aneka Simbol Paskah dan Maknanya
 
Fun Game Minggu Paskah Setelah Misa Paskah Anak-anak Gereja St. Yakobus Citraland Surabaya
 
Jadwal Prapaskah Paskah 2015 Gereja Santo Yakobus - Citraland Surabaya
 
Keluarga Sebagai Sekolah Iman Yang Penuh Sukacita
 
 
  JADWAL MISA
 

GEREJA KATOLIK PAROKI SANTO YAKOBUS

Jalan Puri Widya Kencana Blok LL No 1, Surabaya

Telpon : (031) 7412800

 

Misa Pagi: Jam 5:30 WIB (Setiap Hari, Senin-Sabtu)

Hari Jumat Pertama: Pukul 19:00 WIB

Hari Sabtu: Pukul 18:00 WIB

Hari Minggu:Pukul 06:00, 08:00, 10:00, 18:00 WIB

Hari Minggu ke-5:Pukul 18:00 WIB (Misa Kharismatik)

Pengakuan Dosa: Hari Sabtu Jam 17.45 WIB

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

:: JADWAL MISA MANDARIN 2016 DI SURABAYA ::  


  UPDATE LIFESTYLE
BPJS GRATIS
 
Kesuksesan Karena Iman
 
Ambillah Keputusan
 
Hewan Yang Paling Setia Didunia
 
Mr. Not Always Right
 

 

:: || P.E.R.H.A.T.I.A.N || ::
Umat Wilayah Santa Maria atau Donatur yang terkasih dalam Kristus. Apabila Ada yang berkenan ikut berpartisipasi dan mendukung program Wilayah Santa Maria, melalui Pemasangan Iklan pada Website Wilayah Santa Maria, atau Buletin ANGELA - Wilayah Santa Maria, atau hanya sumbangan dana saja bisa ke :
REKENING WILAYAH SANTA MARIA
BANK BCA KANTOR CABANG DARMO A/C No. 088 587 6868

 

 
     
HOME | BERITA | AGENDA | GALERI
Biak: 67 | Rekat: 49 | Mudika: 167 | Dewasa: 281 | Lansia: 161 | KK: 158
Copyright © 2013 - 2017 stmaria.info