stmaria.info Wilayah St. Maria Paroki St. Yakobus Keuskupan Surabaya
  Home Berita Agenda Galeri  
   
  • KEBAHAGIAAN ADALAH PILIHAN DAN KEPUTUSAN YANG KITA TENTUKAN SENDIRI OLEH KEDEKATAN DAN KEINTIMAN KITA DENGAN-NYA
 
  BERITA ROHANI
 
 
Kecerdasan Seorang Manusia
07 January 2014
Kecerdasan Seorang Manusia

Saat masih di SMA, saya memiliki seorang teman yang sangat pintar dan selalu jadi juara kelas. Jika ada ulangan atau ujian semua memintanya untuk mengajar dan membantu. Anehnya, keadaannya kini tak sesukses teman yang saat SMA ‘ugal-ugalan’. Teman yang ‘ugal-ugalan’ itu, pernah dinobatkan sebagai salah satu eksekutif terbaik sebuah majalah bisnis nasional. Sedangkan teman yang selalu juara kelas tersebut, karirnya biasa saja. Mengapa “keanehan” ini terjadi? Mestinya yang sering juara kelas itu lebih sukses daripada yang ugal-ugalan tadi?

Sekelumit cerita di atas, setidaknya menggambarkan kenyataan dunia pendidikan kita saat ini. Kita selalu berpikir, bahwa Intellectual Quotient (IQ) sudah cukup untuk membuat orang jadi sukses. Padahal tes IQ sendiri mempunyai keterbatasan. Ketika saya tes IQ tahun 1999, nilai saya hanya 99. Menurut standar, untuk jadi seorang dominikan harusnya saya gagal. Namun syukur, karena pemimpin saya baik (atau Tuhan Maha Baik), saya dinyatakan menjadi seorang dominikan. Saya pun akhirnya berhasil sampai dengan lulus studi doktoral (S3) dengan predikat Magna cum-laude tahun 2006.

Selain bicara tentang Intellectual Quotient (IQ), kini banyak pula orang bicara tentang Emotional Quotient (EQ), Spiritual Quotient (SQ), Social Quotient (SoQ), bahkan Enviromental Quotient (EnQ). Kesemua “Q” ini pada dasarnya menekankan, bahwa pendidikan itu harus mencakup semua dimensi kemanusiaan, termasuk perasaan. Tidak ketinggalan pula pentingnya penekanan terhadap dimensi moral dan karakter.

Bukan rahasia lagi, banyak lulusan terbaik di negeri ini adalah mereka yang kini menjadi tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Melihat realitas ini, dosen moral saya mengatakan, bahwa mereka yang dipenjara karena korupsi (termasuk koruptor kakap) adalah yang ber-IQ tinggi. Mereka menggunakan otak yang cerdas untuk ‘mencuri’ secara masif.

Oleh sebab itu, ketika berkisah tentang realitas dunia pendidikan, mestinya kita mempunyai visi-misi yang jelas. Bukan sekadar mendirikan sekolah mahal dengan nama mentereng. Banyak orang ber-IQ tinggi tak sukses (gagal) dalam hidup. Bahkan jadi tahanan KPK.

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) kita, selain bicara akan pentingnya pendidikan dalam semua aspek manusia, seiring perkembangan zaman seharusnya tak ‘melupakan’ visi-misi pembangunan manusia seutuhnya.

Ketika membaca buku The World is Flat, karya Thomas L. Friedman, saya merenung; apakah semua pendidik atau manajemen pendidikan kita itu pernah berfikir untuk bagaimana masa depan atau hanya mencoba membuat sekolah dengan nama yang mentereng? Atau jangan-jangan, para pendidik itu tak membaca atau tak mengerti arah perkembangan global? Sayang sekali! Lalu, bagaimana dengan lulusan yang dihasilkan?

Saya kagum dengan Lee Kuan Yew. Ketika para konglomerat dan kepala Negara sepakat mendirikan Asian Institute of Management (AIM) di Manila, dia pun turut jadi salah satu partisipannya. Namun ketika melihat keberhasilan AIM, tuntutan Jepang, serta peran strategis Singapura, Lee pun mendirikan Nanyang University (NU). Universitas yang kini sangat terkenal dan jadi rebutan orang kaya Indonesia. Lalu, Indonesia sendiri mau ke mana?

Itulah realitas pendidikan kita secara umum. Pendidikan Katolik pun tak lepas dari sistem pendidikan umum. Meski memiliki kekhasan tersendiri, sebagai bagian dari misi untuk membuat anak didik lebih beriman, peka terhadap yang miskin, jujur dan disiplin dalam hidup, serta kerja dan keinginan (nafsu). Pertanyaannya, seberapa besarkah output ini kita peroleh? Ngerinya, semua terjebak dalam trend dan persaingan. Semua berlomba-lomba menawarkan program bahasa asing, serta menggunakan nama asing yang mentereng. Padahal, satu hal yang diperlukan: mendidik anak jadi manusia seutuhnya dan siap menghadapi masa depan yang kontekstual. Tantangannya, apakah manajemen serta pendidik tahu arahnya? Atau sekadar ikut trend? Jadi, “Semoga kita semua menjadi pemain, bukan hanya sekedar penonton!”

Ditulis oleh : Pastor Johanes Robini Marianto, OP

 

  Berita Lainnya
Ketentuan Penerimaan Komuni Pertama 2016
 
Aneka Simbol Paskah dan Maknanya
 
Fun Game Minggu Paskah Setelah Misa Paskah Anak-anak Gereja St. Yakobus Citraland Surabaya
 
Jadwal Prapaskah Paskah 2015 Gereja Santo Yakobus - Citraland Surabaya
 
Keluarga Sebagai Sekolah Iman Yang Penuh Sukacita
 
 
  JADWAL MISA
 

GEREJA KATOLIK PAROKI SANTO YAKOBUS

Jalan Puri Widya Kencana Blok LL No 1, Surabaya

Telpon : (031) 7412800

 

Misa Pagi: Jam 5:30 WIB (Setiap Hari, Senin-Sabtu)

Hari Jumat Pertama: Pukul 19:00 WIB

Hari Sabtu: Pukul 18:00 WIB

Hari Minggu:Pukul 06:00, 08:00, 10:00, 18:00 WIB

Hari Minggu ke-5:Pukul 18:00 WIB (Misa Kharismatik)

Pengakuan Dosa: Hari Sabtu Jam 17.45 WIB

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

:: JADWAL MISA MANDARIN 2016 DI SURABAYA ::  


  UPDATE LIFESTYLE
BPJS GRATIS
 
Kesuksesan Karena Iman
 
Ambillah Keputusan
 
Hewan Yang Paling Setia Didunia
 
Mr. Not Always Right
 

 

:: || P.E.R.H.A.T.I.A.N || ::
Umat Wilayah Santa Maria atau Donatur yang terkasih dalam Kristus. Apabila Ada yang berkenan ikut berpartisipasi dan mendukung program Wilayah Santa Maria, melalui Pemasangan Iklan pada Website Wilayah Santa Maria, atau Buletin ANGELA - Wilayah Santa Maria, atau hanya sumbangan dana saja bisa ke :
REKENING WILAYAH SANTA MARIA
BANK BCA KANTOR CABANG DARMO A/C No. 088 587 6868

 

 
     
HOME | BERITA | AGENDA | GALERI
Biak: 71 | Rekat: 45 | Mudika: 167 | Dewasa: 282 | Lansia: 156 | KK: 158
Copyright © 2013 - 2017 stmaria.info