stmaria.info Wilayah St. Maria Paroki St. Yakobus Keuskupan Surabaya
  Home Berita Agenda Galeri  
   
  • KEBAHAGIAAN ADALAH PILIHAN DAN KEPUTUSAN YANG KITA TENTUKAN SENDIRI OLEH KEDEKATAN DAN KEINTIMAN KITA DENGAN-NYA
 
  BERITA ROHANI
 
 
Apakah Boleh Memohon Leluhur Mendoakan kita?
05 July 2014
Apakah Boleh Memohon Leluhur Mendoakan kita?

Sebenarnya, tidak ada pengajaran definitif dari Magisterium Gereja Katolik yang menyebutkan boleh atau tidaknya kita memohon agar jiwa-jiwa yang masih ada di dalam Api Penyucian untuk mendoakan kita. Yang ada, memang adalah kita diperkenankan memohon agar para jiwa orang beriman yang ada di surga untuk mendoakan kita (KGK 956).

 

Gereja memang mengumumkan Para Santa/ Santo sebagai para beriman yang sudah pasti berada di surga setelah melalui proses kanonisasi Gereja. Sedangkan walaupun kita dapat mempunyai pengharapan bahwa kerabat kita yang telah mendahului kita dapat masuk surga, namun sesungguhnya kita tidak dapat mengetahui secara pasti apakah mereka saat ini sudah berada di surga, atau masih berada dalam Api Penyucian.

 

Namun demikian, jika kita melihat prinsip adanya kesatuan Gereja yang terdiri dari tiga tahapan, yaitu Gereja yang

 

1) Masih berziarah di dunia,

 

2)Yang sudah jaya di surga, maupun

 

3) Yang masih harus dimurnikan di Api Penyucian, maka, sesungguhnya, kita diikat oleh satu kesatuan (lih. KGK 954, Lumen Gentium 49).

 

Dengan pengertian ini, maka, sebetulnya kita dapat mendoakan para jiwa yang masih dimurnikan di Api Penyucian, dan dapat juga memohon agar mereka mendoakan kita yang masih berziarah di dunia. Praktek mendoakan jiwa para beriman yang masih berada dalam Api Penyucian ini dan memohon agar mereka mendoakan kita, diajarkan oleh beberapa Orang Kudus, diantaranya adalah St. Alfonsus Liguori, St. Katharina dari Siena, dan Padre Pio.

 

Teks doa devosi kepada jiwa-jiwa yang dalam Api Penyucian,  seperti yang diajarkan oleh St. Alfonsus adalah sebagai berikut:

 

O most sweet Jesus,
through the bloody sweat which Thou didst suffer in the Garden of Gethsemane,
have mercy on these Blessed Souls.
Have mercy on them.
R. Have mercy on them, O Lord.

 

O most sweet Jesus,
through the pains which Thou didst suffer during Thy most cruel scourging,
have mercy on them.
R. Have mercy on them, O Lord.

 

O most sweet Jesus,
through the pains which Thou didst suffer in Thy most painful crowning with thorns,
have mercy on them.
R. Have mercy on them, O Lord.

 

O most sweet Jesus,
through the pains which Thou didst suffer in carrying Thy cross to Calvary,
have mercy on them.
R. Have mercy on them, O Lord.

 

O most sweet Jesus,
through the pains which Thou didst suffer during Thy most cruel Crucifixion,
have mercy on them.
R. Have mercy on them, O Lord.

 

O most sweet Jesus,
through the pains which Thou didst suffer in Thy most bitter agony on the Cross,
have mercy on them.
R. Have mercy on them, O Lord.

 

O most sweet Jesus,
through the immense pain which Thou didst suffer in breathing forth Thy Blessed Soul,
have mercy on them.
R. Have mercy on them, O Lord.

(State your intention(s) here while recommending yourself to the souls in Purgatory.)
Blessed Souls, I have prayed for thee;
I entreat thee, who are so dear to God,
and who are secure of never losing Him,
to pray for me a miserable sinner,
who is in danger of being damned,
and of losing God forever.

Amen.

 

Maka dengan prinsip bahwa

 

1) kita sebagai sesama umat beriman dapat dan bahkan dianjurkan untuk saling mendoakan (1 Tim 2: 1), dan

 

2) tidak ada sesuatupun yang dapat memisahkan kita umat beriman (baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal) dari kasih Kristus (Rom 8:38).

 

Maka sangatlah masuk akal bahwa kita dapat saling mendoakan dengan sesama umat beriman, tidak hanya antar sesama umat yang masih hidup, namun juga dengan sesama umat beriman yang telah meninggal dunia dalam kondisi rahmat.

 

Memang, mereka yang sudah berada di surga tidak membutuhkan doa-doa kita, namun kita dapat memohon pertolongan mereka untuk mendoakan kita, justru karena persatuan mereka dengan Tuhan. Mereka yang masih di Api Penyucian membutuhkan doa-doa kita, sebab mereka masih dalam proses pemurnian atas cinta diri, sehingga tidak dapat mendoakan diri mereka sendiri. Namun, mereka dapat mendoakan kita yang masih berziarah di dunia ini, terutama jika intensinya adalah untuk pertobatan. Selanjutnya, jika mereka sampai di surga, merekalah yang nantinya akan mendoakan kita, agar kitapun dapat sampai ke surga.

 

Maka, meskipun kita dapat memohon para beriman yang telah meninggal dunia untuk mendoakan kita, namun yang mengabulkan doa tetap Tuhan saja, dan bukan mereka. Maka menurut saya, sudah terjadi ‘salah kaprah’  jika diadakan persembahan makanan dalam acara sembahyangan kepada arwah leluhur, dan mohon intensi doa yang nadanya seolah-olah mereka itulah yang bisa mengabulkan doa kita.

 

Sebab, persembahan kita hanya ditujukan kepada Tuhan saja, dan yang boleh kita lakukan hanya memohon agar mereka mendoakan kita (itupun dengan catatan kita tahu bahwa leluhur kita adalah orang yang sungguh beriman dan wafat dalam keadaan rahmat).

 

Jadi prinsipnya, sama seperti jika kita mohon kepada sesama umat beriman yang masih hidup untuk mendoakan kita. Jika pihak keluarga ingin mengenang leluhur dengan membuat makanan kesukaan mereka, boleh-boleh saja, tetapi tidak untuk dipersembahkan dalam upacara sembahyangan.