stmaria.info Wilayah St. Maria Paroki St. Yakobus Keuskupan Surabaya
  Home Berita Agenda Galeri  
   
  • KEBAHAGIAAN ADALAH PILIHAN DAN KEPUTUSAN YANG KITA TENTUKAN SENDIRI OLEH KEDEKATAN DAN KEINTIMAN KITA DENGAN-NYA
 
  BERITA ROHANI
 
 
Bukan Rencana Tuhan Jatuhnya Air Asia QZ8501
12 January 2015
Bukan Rencana Tuhan Jatuhnya Air Asia QZ8501

Minggu terakhir tahun 2014 bertepatan dengan Minggu Keluarga Kudus bagi umat Katolik. Tetapi bagi yang kehilangan kekasih mereka, khususnya keluarga korban pesawat Air Asia QZ8501 dari Surabaya tujuan Singapura pada tanggal 28 Desember 2014 yang seharusnya menyenangkan pergi berlibur menjadi berita duka bagi mereka. Para Orang tua kehilangan putra-putri tercinta. Para Suami kehilangan istri. Para Istri kehilangan suami. Anak-anak kehilangan orang tua. Sahabat-sahabat kehilangan teman akrabnya.

Akhir Desember di minggu terakhir tahun 2014 adalah mimpi buruk bagi dunia penerbangan dan kita semua terutama warga Surabaya. Begitu tiba-tiba mereka pergi meninggalkan kita. Air mata mungkin telah terkuras habis. Tetapi luka di hati masih terasa sedih, perih dan pedih. Sebuah pertanyaan abadi muncul kembali ke permukaan, baik itu kita ungkapkan maupun kita sembunyikan.

… Mengapa…?  … Mengapa…?  Dan … Mengapa…?

Seluruh Kitab Ayub sebenarnya menggeluti pertanyaan satu itu. Pertanyaan abadi yang muncul sepanjang masa. Ketika logika tak lagi mampu mencerna. Ketika intuisi tak lagi berfungsi. Ketika duka mencapai titik paling sempurna.

 Mengapa? … Mengapa Allah yang konon mahabaik membiarkan ketidakbaikan mencabik-cabik?

Ayub mengalaminya. Dalam sekejap ia kehilangan semua putra-putrinya. Lalu seluruh harta bendanya. Istrinya pun meninggalkan dia. Dan penyakit menggerogoti tubuhnya.

Apakah Tuhan yang disembahnya dengan setia itu tidak mengetahuinya? Atau, Ia mengetahuinya namun tak mampu berbuat apa-apa?

Bagi Ayub, jawaban amat jelas. Tuhan mengetahui persis apa yang terjadi. Tuhan pun mampu berbuat apa saja yang Ia mau. Soalnya ialah, Tuhan memang membiarkannya. Paling sedikit , Ia mengizinkan si jahat bersimaharajalela.

Itulah sebabnya Ayub bertanya: Mengapa…? Itulah sebabnya Ayub menggugat Allah: “Mengapa aku tidak mati waktu aku lahir, atau binasa waktu aku keluar dari kandungan? Mengapa pangkuan menerima aku; mengapa ada buah dada untuk bisa menyusui sehingga aku menyusu?”

Mengapa…? Sahabat-sahabatnya berusaha keras untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Mereka berpikir, sama seperti kebanyakan kita, bahwa untuk semua pertanyaan pasti tersedia jawaban. Bagi setiap akibat, pasti ada sebab. Bahwa segala sesuatu dapat dijelaskan berdasarkan logika dan akal sehat.

Seorang sahabat misalnya, berkata, “Camkanlah ini, hai sobatku! Siapa binasa dengan tidak bersalah, dan di manakah orang yang jujur dipunahkan? Yang telah saya lihat adalah, bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesalahan, ia menuainya juga.”

Sahabat kita ini ingin tampil sebagai pembela Allah. Jangan persalahkan Allah bila anda tertimpa musibah. Ia tak akan pernah membiarkan anda susah tanpa sebab dan tanpa salah. Penulis teringat akan kotbah Romo Nilo Asucion Lardizabal, OP, asal Filipina dalam PD OMK Wilayah Santa Maria pada bulan Januari 2015 yang lalu, “Tuhan selalu menciptakan yang baik untuk kita, kecelakaan Air Asia bisa saja karena human error dan ketidak disiplinnya manusia. Mungkin saja teknisi pesawat saat pengecekan kurang teliti, mungkin saja ada yang masih menghidupkan telepon genggamnya, kelalaian pilot / kopilotnya pada saat pengoperasiannya atau kelalaian-kelalaian lain oleh manusia itu sendiri. Jadi jangan mengatakan musibah itu sudah rencana Tuhan”.

Toh Ayub tahu bukan itu jawabnya. Tetapi ia bukan manusia yang bebas dari salah. Tetapi bila itulah logikanya, maka yang mestinya terjadi ialah, yang lebih besar salahnya lebih besar pula susahnya. Tetapi yang terjadi di dalam kenyataan justru sebaliknya. Yang jujur hancur. Kata orang jawa seperti ini “Sing ora melu edan, ora keduman.” Orang yang tak ikut gila, tidak kebagian.

Sahabatnya yang lain mengatakan, melalui bencana itu Tuhan mau mendidik dia. Seperti seorang ayah yang memukul anaknya. Mungkin saja. Tetapi mengapa orang benar yang dihancurkan? Mengapa para durjana justru dibiarkan merajalela?

Ia pun terus bertanya: “Mengapa?”…“Mengapa?” dan ...“Mengapa?”

Akhirnya Tuhan sendiri yang datang dengan jawaban. Atau lebih tepat, dengan pertanyaan. “Apakah si pengecam hendak berbantah dengan Yang Mahakuasa? …Hendaklah yang mencela Allah menjawab!”

Allah datang untuk mengingatkan Ayub, siapa Allah dan siapa manusia. Siapakah manusia yang mau mengadili kebijaksanaan Allah? Siapakah manusia yang mau menguasai jalan pemikiran Allah? Siapakah manusia yang mau menuntut pertanggungjawaban Allah? Terbalik, Ayub, sungguh terbalik! Jalan pemikiranmu sungguh terbalik!

Ayub sadar siapa dirinya. Ia berkata, “Sesungguhnya aku ini terlalu hina; jawablah apakah yang dapat kuberikan kepada-Mu?”

Ayub harus menerima keterbatasannya. Tidak semua pertanyaan mempunyai jawaban. Tidak semua akibat mempunyai sebab. Tidak semua kebijaksanaan Allah tercerna oleh logika.

Sikap inilah yang membuat ayub mengalami kuasa Allah. Pertanyaannya tetap tak terjawab. Tetapi jawaban yang diberikan Allah telah mengubah seluruh sikap bahkan seluruh hidupnya. Tidak semua harus ia pahami. Ada hal-hal yang tetap tinggal sebagai misteri. Ia kemudian dapat berkata, “Tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui.”

Ia percaya kepada Allah, bukan hanya sebagai jawaban atas semua pertanyaannya. Tetapi juga sebagai pertanyaan atas semua jawaban-jawabannya.

Marilah kita berdoa bagi saudara-saudara kita yang menjadi korban kecelakaan pesawat Air Asia QZ8501 agar diberi keabadian di sorga, sementara keluarganya dihibur dan diberi kekuatan dan harapan untuk menatapi kehidupan selanjutnya.

 

 

 

Via ANGELA

 

  Berita Lainnya
Ketentuan Penerimaan Komuni Pertama 2016
 
Aneka Simbol Paskah dan Maknanya
 
Fun Game Minggu Paskah Setelah Misa Paskah Anak-anak Gereja St. Yakobus Citraland Surabaya
 
Jadwal Prapaskah Paskah 2015 Gereja Santo Yakobus - Citraland Surabaya
 
Keluarga Sebagai Sekolah Iman Yang Penuh Sukacita
 
 
  JADWAL MISA
 

GEREJA KATOLIK PAROKI SANTO YAKOBUS

Jalan Puri Widya Kencana Blok LL No 1, Surabaya

Telpon : (031) 7412800

 

Misa Pagi: Jam 5:30 WIB (Setiap Hari, Senin-Sabtu)

Hari Jumat Pertama: Pukul 19:00 WIB

Hari Sabtu: Pukul 18:00 WIB

Hari Minggu:Pukul 06:00, 08:00, 10:00, 18:00 WIB

Hari Minggu ke-5:Pukul 18:00 WIB (Misa Kharismatik)

Pengakuan Dosa: Hari Sabtu Jam 17.45 WIB

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

:: JADWAL MISA MANDARIN 2016 DI SURABAYA ::  


  UPDATE LIFESTYLE
BPJS GRATIS
 
Kesuksesan Karena Iman
 
Ambillah Keputusan
 
Hewan Yang Paling Setia Didunia
 
Mr. Not Always Right
 

 

:: || P.E.R.H.A.T.I.A.N || ::
Umat Wilayah Santa Maria atau Donatur yang terkasih dalam Kristus. Apabila Ada yang berkenan ikut berpartisipasi dan mendukung program Wilayah Santa Maria, melalui Pemasangan Iklan pada Website Wilayah Santa Maria, atau Buletin ANGELA - Wilayah Santa Maria, atau hanya sumbangan dana saja bisa ke :
REKENING WILAYAH SANTA MARIA
BANK BCA KANTOR CABANG DARMO A/C No. 088 587 6868

 

 
     
HOME | BERITA | AGENDA | GALERI
Biak: 71 | Rekat: 45 | Mudika: 166 | Dewasa: 283 | Lansia: 156 | KK: 158
Copyright © 2013 - 2017 stmaria.info